Cari Blog Ini

Senin, 17 Februari 2020

TRI SANDYA BAIT. I OM OM OM BHUR BHUVAH SVAH, TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DHIMAHI DHIYO YO NAH PRACODAYAT Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa yang menguasai ketiga dunia ini, Engkau Maha Suci, sumber segala cahaya dan kehidupan, berikanlah budi nurani kami penerangan sinar cahaya-Mu Yang Maha Suci. BAIT. II OM NARAYANA EVEDAM SARVAM, YAD BHUTAM YASCA BHAVYAM, NISKALANGKO NIRANJANO NIRVIKALPO, NIRAKHYATAH SUDHO DEVA EKO, NARAYANO NA DVITYO ASTI KASCIT Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, sumber segala ciptaan, sumber semua makhluk dan kehidupan, Engkau tak ternoda, suci murni, abadi dan tak ternyatakan. Engkau Maha Suci dan tiadalah Tuhan yang kedua. BAIT. III OM TVAM SIVAH TVAM MAHADEVA,ISVARAH PARAMESVARAH, BRAHMA VISNUSCA RUDRASCA, PURUSAH PARIKIRTITAH Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau disebut juga Siwa, Mahadewa, Brahma, Wisnu dan juga Rudra, karena Engkau adalah asal mula segala yang ada. BAIT. IV OM PAPO’HAM PAPA KARMAHAM, PAPATMA PAPA SAMBAVAH, TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH, SABAHYABHYANTARAH SUCIH Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, hamba-Mu penuh kenestapaan, nestapa dalam perbuatan, jiwa, kelahiran. Karena itu oh Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari kenestapaan ini, dan sucikanlah lahir bathin hamba. BAIT. V OM KAMASVA MAM MAHADEVAH, SARVAPRANI HITANGKARA, MAM MOCA SARVA PAPEBHYAH, PALAYASVA SADA SIVAH Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Utama, ampunilah hamba-Mu, semua makhluk Engkau jadikan sejahtera, dan Engkau bebaskan hamba-Mu dari segala kenestapaan atas tuntunan suci-Mu oh Penguasa kehidupan. BAIT. VI OM KSANTAVYAH KAYIKO DOSAH, KSANTAVYO VACIKA MAMA, KSANTAVYO MANASO DOSAH, TAT PRAMADAT KSAMASVA MAM, OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa dari perbuatan, ucapan, dan pikiran hamba, semoga segala kelalaian hamba itu Engkau ampuni. Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.

KARMA Karma (Sanskerta: karma) berarti perbuatan. Karma merujuk pada perbuatan berkehendak yang kita lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita melalui berbuat, berkata, dan berpikir. Karma adalah kaidah bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, jika kondisinya sesuai, akan menghasilkan akibat tertentu. Bagaimana Karma Bekerja? Semua perbuatan meninggalkan jejak atau benih pada kesadaran kita, yang akan masak menjadi pengalaman-pengalaman kita ketika kondisi yang sesuai muncul. Sebagai contoh, jika kita menolong seseorang dengan hati yang tulus, perbuatan ini akan meninggalkan jejak-jejak positif dalam arus pikiran kita. Ketika kondisinya memadai, jejak ini akan masak dalam bentuk kita menerima pertolongan tatkala kita membutuhkannya. Benih-benih Karma terus mengikuti kita dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Bagaimanapun juga, jika kita tidak menciptakan sebab-sebab atau Karma untuk terjadinya sesuatu, kita tidak akan mengalami hasilnya. Jika kita tidak menanam benih tertentu, tanaman tidak akan tumbuh. Buddha mengajarkan: Sesuai benih yang ditabur, begitulah buah yang dituai. Pelaku kebaikan akan meraih hasil yang baik, Pelaku keburukan akan memetik hasil yang buruk. Jika engkau menanam benih yang baik, engkau akan menikmati buah yang baik. Apakah Pengaruh Karma? Karma mempengaruhi kelahiran kita yang akan datang dan mempengaruhi apa yang kita alami selama hidup ini: bagaimana orang lain memperlakukan kita, kekayaan kita, status sosial kita, dan sebagainya. Karma juga mempengaruhi kepribadian dan watak kita, bakat kita, perilaku kita, dan kebiasaan kita. Jenis lingkungan tempat kita dilahirkan juga dipengaruhi oleh Karma. Kita yang sekarang ini sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Kita yang akan datang sesuai dengan apa yang tengah kita lakukan. (ehipassiko) Ada Jenis Karma Apa Saja? didalam Bhagavad-Gita disebutkan yaitu Karma, Akarma dan Vikarma. Karma merupakan perbuatan/aktivitas yang pada umumnya kita lakukan sehari-hari, yang batasnya hanyalah di lingkungan baik dan buruk. Tidak lebih dari pada batas itu. Jika Kita berbuat baik, akan menghasilkan pahala baik, jika kita berbuat buruk, perbuatan tersebut akan mengantarkan orang pada hasil atau pahala buruk pula. Lebih jauh…, perbuatan buruk akan mengantarkan kita ke alam-alam bawah, atau neraka-neraka dengan pembagiannya yang sangat rapi, siapa berbuat apa akan pergi kemana dan mendapatkan siksaan macam apa selama berapa waktu, entah ke alam bawah bernama Tala, Tala-Tala dan lain lain yang banyaknya berjumlah tujuh jenis, atau kalau orang berbuat baik akan mendapatkan hasil-hasil baik, berupa pahala-pahala yang mengantarkan mereka menuju alam-alam lebih tinggi yang dinamakan surga (yang berjumlah tujuh tingkat). Terhadap Karma baik yang mengantarkan orang-orang dapat pergi dan menikmati pahalanya di surga-surga tersebut Shri Krishna memberikan kesimpulan "ksine punye", bahwa kapan pahala perbuatannya habis dinikmati di Surga, maka ia akan kembali lagi menjelma ke dunia ini (martya-lokam visanti). Ia harus kembali lagi mengulangi dan mengalami berbagai kesengsaraan yang telah ia alami berulangkali didalam penjelmaan-penjelmaan sebelumnya. Akarma, adalah perbuatan yang tidak berbuat, atau tidak berbuat didalam berbuat. Karma dalam tingkat ini dinamakan Visuddha Karma, yaitu perbuatan/aktivitas yang tidak lagi menghasilkan buah baik atau buruk, melainkan ia mengantarkan orang kepada alam di luar Surga-Surga, yaitu alam pembebasan, alam Vaikuntha, alam yang telah sepenuhnya bebas dari segala jenis kecemasan dan keragu-raguan. Seperti mengorbankan dirinya (tubuh pikiran ucapan) untuk pembebasan. Vikarma, adalah perbuatan yang dianjurkan oleh kitab suci untuk tidak dilakukan. Ada orang yang tanpa usaha keras dapat menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan tidak baik, tetapi ada pula orang yang memerlukan bantuan kitab-kitab suci untuk memberikan wanti-wanti dan arahan kepada dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Acharya Shridhara menunjuk perbuatan Vikarma pada pengertian perbuatan Adharma, yaitu perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama, moral spiritual. Resi Daksa memberikan 9 (sembilan) jenis perbuatan yang dikelompokkan kedalam Vikarma, antara lain : 1.Anritam karma, yaitu perbuatan yang penuh berada dalam kebohongan, perbuatan yang tidak berada didalam kebenaran. Tegasnya, Anritam karma adalah perbuatan penuh kebohongan. 2.Paradara karma, yaitu perbuatan berselingkuh dengan istri orang/wanita lain. 3.Abhaksya-bhaksanam karma, artinya memakan makanan yang dilarang oleh kitab-kitab suci, atau makanan-makanan yang menjatuhkan kesehatan, sifat keagamaan dan spiritualitas. 4.Agamyagamanam karma, menggauli wanita bermoral rendah, atau wanita yang sedang tidak boleh digauli sesuai dengan adat-tradisi atau bahkan istri sendiri selama masa tertentu. 5.Apeyapanam karma, yaitu meminum minuman terlarang. 6.Steyam karma, yaitu kegiatan mencuri. 7.himsa karma/Hingsanam karma, dimaksudkan adalah perbuatan kekerasan, menyakiti yang lain termasuk binatang tanpa alasan yang dibenarkan kitab-kitab suci. 8.Asrautrakarmacaranam karma, berarti perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Veda. 9.Maitradharmabahiskritam karma, adalah tidak melakukan sembahyang atau kewajiban spiritual sehari-hari. Terhadap jenis Nomor 9 ini, beberapa komentator berpendapat bahwa ia bukanlah merupakan kegiatan yang dilarang, melainkan kegiatan yang melanggar petunjuk-petunjuk kitab suci. Samsara ada karena proses karma, terhentinya Samsara terhentinya karma. bagaimana menghentikan Karma adalah tersadarkan sepenuhnya untuk berbuat tanpa terikat hasil. N. Dwipayana LABEL: ISI PIKIRANKU

Senin, 20 November 2017

KARMA

Karma

0 KOMENTAR
KARMA
Karma (Sanskerta: karma) berarti perbuatan. Karma merujuk pada perbuatan berkehendak yang kita lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita melalui berbuat, berkata, dan berpikir. Karma adalah kaidah bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, jika kondisinya sesuai, akan menghasilkan akibat tertentu.

Bagaimana Karma Bekerja?

Semua perbuatan meninggalkan jejak atau benih pada kesadaran kita, yang akan masak menjadi pengalaman-pengalaman kita ketika kondisi yang sesuai muncul. Sebagai contoh, jika kita menolong seseorang dengan hati yang tulus, perbuatan ini akan meninggalkan jejak-jejak positif dalam arus pikiran kita. Ketika kondisinya memadai, jejak ini akan masak dalam bentuk kita menerima pertolongan tatkala kita membutuhkannya.

Benih-benih Karma terus mengikuti kita dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Bagaimanapun juga, jika kita tidak menciptakan sebab-sebab atau Karma untuk terjadinya sesuatu, kita tidak akan mengalami hasilnya. Jika kita tidak menanam benih tertentu, tanaman tidak akan tumbuh. Buddha mengajarkan:

Sesuai benih yang ditabur,
begitulah buah yang dituai.
Pelaku kebaikan akan meraih hasil yang baik,
Pelaku keburukan akan memetik hasil yang buruk.
Jika engkau menanam benih yang baik,
engkau akan menikmati buah yang baik.

Apakah Pengaruh Karma?

Karma mempengaruhi kelahiran kita yang akan datang dan mempengaruhi apa yang kita alami selama hidup ini: bagaimana orang lain memperlakukan kita, kekayaan kita, status sosial kita, dan sebagainya. Karma juga mempengaruhi kepribadian dan watak kita, bakat kita, perilaku kita, dan kebiasaan kita. Jenis lingkungan tempat kita dilahirkan juga dipengaruhi oleh Karma.

Kita yang sekarang ini sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Kita yang akan datang sesuai dengan apa yang tengah kita lakukan. (ehipassiko)

Ada Jenis Karma Apa Saja?

didalam Bhagavad-Gita disebutkan yaitu Karma, Akarma dan Vikarma.

Karma merupakan perbuatan/aktivitas yang pada umumnya kita lakukan sehari-hari, yang batasnya hanyalah di lingkungan baik dan buruk. Tidak lebih dari pada batas itu. Jika Kita berbuat baik, akan menghasilkan pahala baik, jika kita berbuat buruk, perbuatan tersebut akan mengantarkan orang pada hasil atau pahala buruk pula.
Lebih jauh…, perbuatan buruk akan mengantarkan kita ke alam-alam bawah, atau neraka-neraka dengan pembagiannya yang sangat rapi, siapa berbuat apa akan pergi kemana dan mendapatkan siksaan macam apa selama berapa waktu, entah ke alam bawah bernama Tala, Tala-Tala dan lain lain yang banyaknya berjumlah tujuh jenis, atau kalau orang berbuat baik akan mendapatkan hasil-hasil baik, berupa pahala-pahala yang mengantarkan mereka menuju alam-alam lebih tinggi yang dinamakan surga (yang berjumlah tujuh tingkat).
Terhadap Karma baik yang mengantarkan orang-orang dapat pergi dan menikmati pahalanya di surga-surga tersebut Shri Krishna memberikan kesimpulan "ksine punye", bahwa kapan pahala perbuatannya habis dinikmati di Surga, maka ia akan kembali lagi menjelma ke dunia ini (martya-lokam visanti). Ia harus kembali lagi mengulangi dan mengalami berbagai kesengsaraan yang telah ia alami berulangkali didalam penjelmaan-penjelmaan sebelumnya.

Akarma, adalah perbuatan yang tidak berbuat, atau tidak berbuat didalam berbuat. Karma dalam tingkat ini dinamakan Visuddha Karma, yaitu perbuatan/aktivitas yang tidak lagi menghasilkan buah baik atau buruk, melainkan ia mengantarkan orang kepada alam di luar Surga-Surga, yaitu alam pembebasan, alam Vaikuntha, alam yang telah sepenuhnya bebas dari segala jenis kecemasan dan keragu-raguan. Seperti mengorbankan dirinya (tubuh pikiran ucapan) untuk pembebasan.

Vikarma, adalah perbuatan yang dianjurkan oleh kitab suci untuk tidak dilakukan. Ada orang yang tanpa usaha keras dapat menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan tidak baik, tetapi ada pula orang yang memerlukan bantuan kitab-kitab suci untuk memberikan wanti-wanti dan arahan kepada dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Acharya Shridhara menunjuk perbuatan Vikarma pada pengertian perbuatan Adharma, yaitu perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama, moral spiritual.
Resi Daksa memberikan 9 (sembilan) jenis perbuatan yang dikelompokkan kedalam Vikarma, antara lain :
1.Anritam karma, yaitu perbuatan yang penuh berada dalam kebohongan, perbuatan yang tidak berada didalam kebenaran. Tegasnya, Anritam karma adalah perbuatan penuh kebohongan.
2.Paradara karma, yaitu perbuatan berselingkuh dengan istri orang/wanita lain.
3.Abhaksya-bhaksanam karma, artinya memakan makanan yang dilarang oleh kitab-kitab suci, atau makanan-makanan yang menjatuhkan kesehatan, sifat keagamaan dan spiritualitas.
4.Agamyagamanam karma, menggauli wanita bermoral rendah, atau wanita yang sedang tidak boleh digauli sesuai dengan adat-tradisi atau bahkan istri sendiri selama masa tertentu.
5.Apeyapanam karma, yaitu meminum minuman terlarang.
6.Steyam karma, yaitu kegiatan mencuri.
7.himsa karma/Hingsanam karma, dimaksudkan adalah perbuatan kekerasan, menyakiti yang lain termasuk binatang tanpa alasan yang dibenarkan kitab-kitab suci.
8.Asrautrakarmacaranam karma, berarti perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Veda.
9.Maitradharmabahiskritam karma, adalah tidak melakukan sembahyang atau kewajiban spiritual sehari-hari. Terhadap jenis Nomor 9 ini, beberapa komentator berpendapat bahwa ia bukanlah merupakan kegiatan yang dilarang, melainkan kegiatan yang melanggar petunjuk-petunjuk kitab suci.

Samsara ada karena proses karma, terhentinya Samsara terhentinya karma. bagaimana menghentikan Karma adalah tersadarkan sepenuhnya untuk berbuat tanpa terikat hasil.
N. Dwipayana

TRI SANDYA

TRI SANDYA

BAIT. I      
OM OM OM BHUR BHUVAH SVAH,
TAT SAVITUR VARENYAM,
BHARGO DEVASYA DHIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAT
Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa yang menguasai ketiga dunia ini, Engkau Maha Suci, sumber segala cahaya dan kehidupan, berikanlah budi nurani kami penerangan sinar cahaya-Mu Yang Maha Suci.

BAIT. II     
OM NARAYANA EVEDAM SARVAM,
YAD BHUTAM YASCA BHAVYAM,
NISKALANGKO NIRANJANO NIRVIKALPO,
NIRAKHYATAH SUDHO DEVA EKO,
NARAYANO NA DVITYO ASTI KASCIT
Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, sumber segala ciptaan, sumber semua makhluk dan kehidupan, Engkau tak ternoda, suci murni, abadi dan tak ternyatakan. Engkau Maha Suci dan tiadalah Tuhan yang kedua.

BAIT. III      
OM TVAM SIVAH TVAM MAHADEVA,ISVARAH PARAMESVARAH,
BRAHMA VISNUSCA RUDRASCA,
PURUSAH PARIKIRTITAH
Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau disebut juga Siwa, Mahadewa, Brahma, Wisnu dan juga Rudra, karena Engkau adalah asal mula segala yang ada.
BAIT. IV   
OM PAPO’HAM PAPA KARMAHAM,
PAPATMA PAPA SAMBAVAH,
TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH,
SABAHYABHYANTARAH SUCIH
Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, hamba-Mu penuh kenestapaan, nestapa dalam perbuatan, jiwa, kelahiran. Karena itu oh Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari kenestapaan ini, dan sucikanlah lahir bathin hamba.
BAIT. V

OM KAMASVA MAM MAHADEVAH,
SARVAPRANI HITANGKARA,
MAM MOCA SARVA PAPEBHYAH,
PALAYASVA SADA SIVAH
Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Utama, ampunilah hamba-Mu, semua makhluk Engkau jadikan sejahtera, dan Engkau bebaskan hamba-Mu dari segala kenestapaan atas tuntunan suci-Mu oh Penguasa kehidupan.

BAIT. VI

OM KSANTAVYAH KAYIKO DOSAH,
KSANTAVYO VACIKA MAMA,
KSANTAVYO MANASO DOSAH,
TAT PRAMADAT KSAMASVA MAM,
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM
Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa dari perbuatan, ucapan, dan pikiran hamba, semoga segala kelalaian hamba itu Engkau ampuni. Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.

MEDITASI

MEDITASI
Sumber ; Rumah Dharma

Sebelum memulai meditasi, ucapkanlah Gayatri Mantra.
Dan kita mulai meditasi dengan suatu tekad, kita meditasi tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga meditasi untuk semua mahluk. Dengan meditasi bathin kita menjadi damai, tenang-seimbang dan bahagia, serta kecenderungan negatif kita seperti kemarahan, kebencian, kesombongan, dll, akan jauh berkurang. Dengan lebih sedikit marah dan benci, kita lebih sedikit melukai hati dan perasaan mahluk lain. Dengan lebih rendah hati, kita bisa menghormati orang lain dan menghormati perbedaan secara lebih baik. Dengan lebih sedikit serakah, kita lebih sedikit membuat orang lain menderita. Dengan lebih tenang-seimbang, kita lebih sedikit membunuh nyamuk dan serangga, dll-nya. Dengan kata lain, kembali ke awal, meditasi kita mulai dengan suatu tekad, kita melaksanakan meditasi tidak hanya untuk diri kita sendiri tapi sekaligus juga untuk semua mahluk.
SARANA

1. Alas duduk.
Pakailah alas duduk atau bantalan yang cukup tebal [sekitar 5 cm], tujuannya untuk menghindari tubuh fisik kontak langsung dengan energi gravitasi bumi. Seandainya tidak ada tidak apa-apa, tapi kalau ada seperti itu lebih baik.
2. Pakaian.
Gunakan pakaian yang longgar [tidak ketat atau mengikat], tipis dan terbuka, agar tidak terlalu mengganggu kelancaran sirkulasi nadi dan energi tubuh. Semakin bebas semakin baik. Akan tetapi kalau tinggal di daerah dingin [misalnya di pegunungan] dimana ini tidak memungkinkan [juga tidak baik karena suhu dingin], selimutilah tubuh dengan kain tebal, yang penting pakaian tetap tidak ketat atau sifatnya mengikat bagian tubuh kita. Seandainya tidak bisa tidak apa-apa, tapi kalau bisa seperti itu lebih baik.
LOKASI
Meditasi sebenarnya bisa dilakukan dimana saja. Kalau untuk di rumah, paling baik kalau kita melakukannya di tempat yang memiliki vibrasi energi, seperti : sanggah atau merajan di rumah, di kamar suci atau setidaknya di depan pelangkiran di kamar. Karena vibrasi tempat-tempat itu bisa membantu kita dalam meditasi. Seandainya tidak bisa tidak apa-apa, cukup cari tempat yang nyaman saja, tapi kalau bisa seperti itu lebih baik.
WAKTU
Meditasi sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Tapi baik kalau kita melakukannya antara jam 03.00 - 06.00 dini hari. Pertama karena saat itu udara bersih dan segar, kedua karena energi alam yang halus cenderung bebas dari gangguan vibrasi lain. Dengan catatan khusus faktor waktu ini bukanlah sebuah pakem, yang paling baik kita sendirilah yang menentukan kapan akan meditasi sesuai kondisi diri kita masing-masing.
ASANA [SIKAP BADAN]
1. Badan.
Badan mengambil sikap tubuh [asana] dengan padma asana atau padmasana, yaitu posisi duduk berbentuk bunga padma.
foto : padma asana
Atau boleh juga mengambil sikap tubuh [asana] dengan ardha padmasana, yaitu posisi duduk berbentuk setengah bunga padma.
foto : ardha padmasana
Sikap tubuh terbaik adalah yang paling membuat kita merasa nyaman. Silahkan bebas memilih yang mana yang kita paling merasa nyaman.
2. Punggung.
Keadaan tulang punggung harus tegak lurus. Tujuannya untuk menghindari bangkitnya api kundalini [kundalini shakti] tanpa disadari. Bila kita belum biasa dengan posisi punggung tegak lurus ini, kita bisa mula-mula melatihnya dengan bersandar pada dinding.
LIDAH
Tekuk ujung lidah keatas agar menyentuh langit-langit mulut. Ini terkait dengan sirkulasi energi dalam tubuh kita.

MUDRA

Ada ratusan jenis mudra dengan fungsinya masing-masing. Tapi disini yang kita gunakan adalah Jnana Mudra. Letakkan kedua tangan diatas lutut [kaki] dan gunakan Jnana Mudra. Tiga jari menghadap keluar [melepas], tujuannya untuk melepaskan [melampaui] Tri Guna : Sattvam, Rajas, Tamas, melalui ketiga jari. Ujung ibu jari bertemu dengan ujung telunjuk, tujuannya adalah keheningan bathin [membentuk angka nol]. Keheningan sempurna. Mudra ini adalah mudra kosmik penyatuan kesadaran dengan kesadaran universal.
foto : jnana mudra
PRANAYAMA SEBAGAI OBYEK MEDITASI
Setelah melakukan semua hal yang diuraikan diatas, pejamkan mata anda. Kemudian laksanakan ketiga hal ini secara bersamaan :
1. Tarik nafas perlahan dari hidung dalam-dalam, simpan sebentar, lalu lepaskan pelan-pelan. Lakukan dengan berirama teratur.
2. Pada saat yang bersamaan >>> pada saat menarik nafas, hitung tarikan nafas ini [dalam hati] sebagai : "satu", pada saat melepas nafas, hitung pelepasan nafas ini [dalam hati] sebagai : "dua". Tarikan nafas berikutnya hitung sebagai "tiga" dan kemudian pelepasan nafas hitung sebagai "empat". Terus demikian sampai hitungan "delapan". Setelah "delapan" kembali ulangi lagi dari awal [dari "satu"]. Demikian seterusnya. Catatan : jumlah hitungannya jangan lebih atau kurang dari delapan. Hitunglah dari satu s/d-delapan saja, jangan diubah-ubah.
3. Pada saat yang bersamaan >>> fokuskan seluruh konsentrasi pikiran kita untuk mengamati udara yang keluar masuk. Amati pergerakan udara dari dia mulai masuk ke hidung kita, mengalir ke dalam paru-paru kita, diam sejenak di dalam paru-paru kita, kemudian mengalir keluar dari paru-paru kita. Demikian seterusnya. 
Penting : Lakukan ketiga hal ini secara bersamaan, dengan berirama teratur.
LIMA TAHAP MEDITASI
Lakukanlah meditasi setiap hari secara rutin. Minggu pertama cukup 10 menit. Minggu berikutnya tingkatkan jadi 20 menit. Terus demikian sampai kita bisa meditasi antara 30 menit s/d 1 jam.
Berikut adalah serangkaian tahapan dalam perjalanan meditatif kita :
1. PRATYAHARA - berusaha "memegang" obyek.
Pratyahara berarti penarikan indriya-indriya dan pikiran dari obyek-obyek luar. Caranya adalah dengan konsentrasi atau berusaha "memegang" obyek meditasi. Pada mulanya, jadikanlah ujung hidung sebagai tempat mengamati keluar-masuknya nafas. Berusahalah sungguh-sungguh konsentrasi, tapi tetaplah santai. Kalau kita sungguh-sungguh, rata-rata bagi orang kebanyakan dalam waktu 3 bulan tahap pertama ini akan terlewati. Kita sudah bisa berkonsentrasi dengan baik, objek mulai jelas dan sudah tertangkap dgn baik.
2. DHARANA - "memegang" obyek dengan baik.
Dharana berarti konsentrasi telah terbentuk. Bila setiap meditasi obyek sudah dapat terpegang dengan baik, berarti kekuatan konsentrasi kita sudah terbentuk. Jangan terbelokkan oleh apapun yang muncul, selalu kembali konsentrasi pada obyek meditasi [keluar-masuk nafas] dengan baik.
3. DHYANA - memasuki meditasi.
Dhyana berarti meditasi [yang mantap]. Apabila kita telah dapat "memegang" obyek meditasi dengan baik, maka "saluran-saluran energi" dalam tubuh kita akan mulai terbuka dan berkembang. Inilah tahap memasuki meditasi. Pada setiap orang akan mengalami pengalaman yang berbeda-beda, ada juga yang seolah tidak mengalami hal ini tapi langsung ke tahap 4 [samprajnata samadhi].
Bagi yang mengalami, sensasinya bermacam-macam. Ada yang melihat cahaya biru kecil, ada yang melihat cahaya dari langit menghujam ke seluruh badan, ada yang melihat cahaya warna-warni yang indah sekali, ada yang tubuhnya merasa ringan sampai seperti terbang, ada yang merasa terangkat dari tempat duduknya, ada yang merasa tubuhnya membesar atau sebaliknya tubuhnya mengecil, dll.
Ada juga yang [kadang-kadang, jarang] menerima seperti wangsit atau suruhan melalui suara yang masuk. Hati-hatilah disini, apalagi bila kita tidak memiliki guru pembimbing, karena mungkin saja itu adalah suara mahluk-mahluk bawah. Kalau kita mendengar suara apapun atau mengalami apapun, abaikan saja kembalilah pada obyek meditasi. Karena kita bukan mencari kesaktian atau mau jadi paranormal. Kalau kita meladeni-nya, meditasi kita akan menyeleweng dari makna dan tujuan meditasi. Kita harus sadar bahwa kita sedang meditasi, kembalilah kepada obyek meditasi, agar kita melangkah maju ke tahap berikutnya.
Pada semua kejadian ini kita sama sekali tidak perlu merasa takut, sadari saja dan kembalilah ke obyek. Seringkali para pemula yang tidak mengerti merasa takut dan tidak berani meditasi lagi. Padahal sesungguhnya inilah kemajuan dari meditasi yang akan dialami oleh yogi yang benar.
4. SAMPRAJNATA SAMADHI.
Sebagian yogi seolah tidak mengalami tahap ketiga [karena untuk mereka berlangsung sangat-sangat singkat], tapi langsung ke tahap ke-4 ini. Sebabnya adalah karena kondisi bathin dan kondisi badan halus setiap orang yang berbeda-beda.
Di tahap ini muncullah cahaya yang sangat terang [tapi sejuk, tidak menyilaukan], yang kita lihat semata-mata hanya cahaya. Kita akan berada pada puncak kebahagiaan-kedamaian yang luar biasa. Tidak seperti kenikmatan nafsu duniawi, tapi sebentuk rasa damai luar biasa yang sulit untuk dijelaskan. Biasanya berlangsung hanya sekitar 1-3 detik saja, kemudian kita sadar dari meditasi. Selepas ini pikiran kita plong sekali, ringan bagaikan kapas. Kita merasa sangat damai dan bahagia. Tidak ada beban lagi, tidak ada penderitaan, pikiran benar-benar bebas lepas bagaikan berada di Svarga Loka. Inilah tahap ke-4, atau samprajnata samadhi yang sedang kita alami.
Pikiran yang sudah diajak berlatih meditasi dengan tekun, akan membersihkan kegelapan-kegelapan bathin. Ketika bathin kta dalam keadaan bersih, dia ringan bagaikan kapas, dia damai dan bahagia. Tidak ada beban yang negatif lagi. Semua sad ripu [kegelapan bathin] tidak ada lagi dan kita benar-benar bebas lepas. Kondisi bathin kita ini akan berlangsung dalam jangka waktu cukup lama.
Kalau kita tidak berhenti disini dan meditasinya diteruskan, kita akan masuk tahap ke-5 yaitu Asamprajnata Samadhi.
5. ASAMPRAJNATA SAMADHI.
Laksana menikmati sebuah pemandangan yang sungguh indah, awalnya kita terpesona dan takjub [tahap 3], setelah itu timbul kedamaian-kebahagiaan [tahap 4].
Setelah kedua proses ini batin mulai normal kembali dan tenang-seimbang, inilah upeksha. Pada tahap upeksha ini, batin sepenuhnya hening. Tidak ada lagi gejolak. Ibarat air laut, tidak ada riak gelombang lagi. Batin benar-benar tenang-seimbang. HENING. Dan antara subjek dan objek sudah manunggal, tidak bisa dibedakan lagi mana subjek dan mana objek. Nafas adalah aku, aku adalah nafas. Kemanunggalan yang sulit dijelaskan, Asamprajnata Samadhi.
Sangat baik kalau kita bisa mencapai tahap samadhi [tahap 4 dan 5] dalam meditasi. Tapi tahap samadhi bukanlah puncak perjalanan. Disebutkan dalam Yoga Sutra, semakin sering kita mengalami samadhi dalam meditasi, maka kesadaran kita akan semakin meningkat dan meningkat terus. 
Catatan : Untuk dapat sampai ke tahap 3, tahap 4 apalagi tahap 5 meditasi ini sesungguhnya memerlukan jangka waktu praktek meditasi yang sangat panjang. Kecuali kita punya "berkah khusus" dalam kelahiran kita. Sehingga dan penting untuk selalu diingat bahwa Meditasi adalah PERJALANAN TANPA TUJUAN. Memiliki target pencapaian justru akan membangunkan dualitas dan menimbulkan konflik bathin dalam diri kita. Sehingga harus kita tekankan ke diri sendiri : "meditasi ya meditasi, tidak ada hasil dan tidak ada tujuan".
Kalau kita rajin dan tekun meditasi, tanpa mencapai tahap 3 dst-nya, sesungguhnya itu sudah sangat membantu pembersihan bathin kita sendiri. Silahkan coba dan rasakan sendiri.


TRI SANDYA BAIT. I OM OM OM BHUR BHUVAH SVAH, TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DHIMAHI DHIYO YO NAH PRACODAYAT Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa yang menguasai ketiga dunia ini, Engkau Maha Suci, sumber segala cahaya dan kehidupan, berikanlah budi nurani kami penerangan sinar cahaya-Mu Yang Maha Suci. BAIT. II OM NARAYANA EVEDAM SARVAM, YAD BHUTAM YASCA BHAVYAM, NISKALANGKO NIRANJANO NIRVIKALPO, NIRAKHYATAH SUDHO DEVA EKO, NARAYANO NA DVITYO ASTI KASCIT Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, sumber segala ciptaan, sumber semua makhluk dan kehidupan, Engkau tak ternoda, suci murni, abadi dan tak ternyatakan. Engkau Maha Suci dan tiadalah Tuhan yang kedua. BAIT. III OM TVAM SIVAH TVAM MAHADEVA,ISVARAH PARAMESVARAH, BRAHMA VISNUSCA RUDRASCA, PURUSAH PARIKIRTITAH Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau disebut juga Siwa, Mahadewa, Brahma, Wisnu dan juga Rudra, karena Engkau adalah asal mula segala yang ada. BAIT. IV OM PAPO’HAM PAPA KARMAHAM, PAPATMA PAPA SAMBAVAH, TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH, SABAHYABHYANTARAH SUCIH Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, hamba-Mu penuh kenestapaan, nestapa dalam perbuatan, jiwa, kelahiran. Karena itu oh Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari kenestapaan ini, dan sucikanlah lahir bathin hamba. BAIT. V OM KAMASVA MAM MAHADEVAH, SARVAPRANI HITANGKARA, MAM MOCA SARVA PAPEBHYAH, PALAYASVA SADA SIVAH Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Utama, ampunilah hamba-Mu, semua makhluk Engkau jadikan sejahtera, dan Engkau bebaskan hamba-Mu dari segala kenestapaan atas tuntunan suci-Mu oh Penguasa kehidupan. BAIT. VI OM KSANTAVYAH KAYIKO DOSAH, KSANTAVYO VACIKA MAMA, KSANTAVYO MANASO DOSAH, TAT PRAMADAT KSAMASVA MAM, OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa dari perbuatan, ucapan, dan pikiran hamba, semoga segala kelalaian hamba itu Engkau ampuni. Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.